Kiai
Abdulloh, bagi masyarakat Probungan Tenggun Klampis lebih dikenal dengan “
BUJUK KOLLA” ada yang mengatakan bahwa beliau itu adalah seorang sayyid
Abdulloh merupakan seorang tokoh historis, legendaries bagi
masyarakat Probungandan mempunyai pengaruh besar khususnya di dunia pesantren
di pedesaan daerah kecamatn Klampis bagian tenggara.
Kalau mengamati sejarah agama
Islam Indonesia, khususnya Madura, maka terdapat banyak tokoh yang berpengaruh
penting dalam penyebaran agama tersebut. Setiap daerah mempunyai tokoh agama
masing-masing, misalnya Syaikhona Kholil atau dikenal dengan Mbah Kholil atau
tokoh-tokoh agama legendaries di Madura,. Banyak tokoh agama yang walaupun
sudah menginggal, namun masih dihormati dan diingat oleh orang Islam di
Indonesia, bahkan masih terlihat pengaruh mereka pada masyarakat sampai saat
sekarang ini, termasuk Kiai Abdulloh, yang bagi masyarakat Probungan
Tenggun Klampis Bangkalan lebih dikenal dengan “ BUJUK KOLLA”
Sejarahnya cukup menarik sebab
beliau banyak menurunkan tokoh-tokoh kiai yang mendirikan Pesantren di bagian
tenggara kecamatan klampis, pengaruhnya sampai ke daerah desa dan kecamatan
lain, antara lain Manonggal, Panyaksakan, Bragang, Sorjan, Glintong. Sementara
di kecamatan lain, pengaruh beliau sampai ke daerah Klapayan, Maneron, lentok,
binoloh, gangsean dan adaerah-daerah lain kecamatan Sepuluh sampai kecamatan
Geger bagian utara.
Salah satu hal berkaitan dengan
Kiai Abdulloh “ BUJUK KOLLA” yang mengagumkan adalah selain sebagai leluhur
masyarakat Probungan yang menurunkan para kiai, adalah keberadaan “KOLLA”
probungan tempat pertapaan beliau. Sampai saat ini, makam beliau masih belum
ditemukan, meskipun ada yang mengklaim makam beliau berada di Tengginah Bator
Klampis, namun kebenaran itu masih perlu diverifikasi kebenarannya. Kenyataan
ini menjadi menarik, sesungguhnya makam asli Beliau tidak ada yang tahu dan
tergantung pendapat orang, mengingat dari keturunan beliau tidak ada yang tahu
persis keberadaan makam Kiai Abdulloh, bagi masyarakat Probungan Tenggun Klampis
lebih dikenal dengan “ BUJUK KOLLA”, masing-masing orang memiliki pendapat,
cerita dan versi tersendiri. Yang paling penting adalah beliau merupakan
leluhur masyarakat Probungan
Yang menjadi fokus dalam tulisan
ini adalah, sejarah Probungan dan perkembangannya, Makam Bujuk
Kolla, biografinya, maupun pengetahuan masyarakat Probungan mengenai
Kiai Abdulloh “ BUJUK KOLLA” dari segi ‘sejarah lisan’. Dari ‘sejarah lisan’
yang dimaksudkan adalah cerita-cerita Kiai Abdulloh “ BUJUK KOLLA” dan Probungan
yang di turun-temurunkan dalam masyarakat tersebut. Topik ini dijadikan fokus
sebab keberadaan banyak misteri mengenai Kiai Abdulloh “ BUJUK KOLLA” dan
Probungan .
Kalau dokumentasi, misalnya
riwayat hidup Kiai Abdulloh “ BUJUK KOLLA” dan Probungan tidak terdapatnya
dokumentasi yang cukup untuk memberikan konfirmasi tentang beliau. Meskipun
begitu, ada kepercayaan di daerah Probungan Klampis bahwa Kiai Abdulloh “ BUJUK
KOLLA” merupakan leluhur masyarakat Probungan .
Untuk mendapatkan gambaran latar
belakang tentang Kiai Abdulloh “ bujuk kolla” akan bermanfaat,
melalui pemahaman tentang peristiwa dalam kehidupan beliau bisa memahami
pengaruh beliau dalam masyarakat serta citra dan persepsi, maupun cerita turun
temurun terhadap beliau bagi orang-orang saat ini. Berikut ini
adalah riwayat hidup
Kiai Abdulloh “ bujuk kolla” dan Probungan secara
singkat berdasarkan tutur masyarakat yang berhasil dihimpun .
A. Asal Muasal Nama Probungan
Berdasarkan tutur yang berkembang
di masyarakat, Probungan berasal dari kata “Poro” dan “abhuweng”, artinya
burung puyuh yang berkelahi. Tersebutlah di daerah bagian utara Probungan
terdapat pohon asam yang sangat besar, suatu saat ada dua ekor burung puyuh
yang berkelahi di bawah pohon asam tersebut. Sehingga ada orang yang menyebut
“Poro abhuweng”. Lama kelamaan, penyebutan itu berubah menjadi “Porobungan” dan
kemudian dipersingkat menjadi “Probungan”. Akhirnya, sampai saat ini, daerah
itu bernama Probungan.
Mengenai cerita-cerita mistis dan
tempat yang dilestarikan oleh masyarakat Probungan antara lain, ada seorang
pencuri yang tidak bisa pulang, tetapi seolah-olah berenang karena ia mengira
berada di lautan, sedangkan tempat-tempat peninggalan yang dilestarikan adalah
tempat Pertapaan Kiai Abdulloh dan masjid probungan yang dibawahnya mengalir
sumber mata air.
B. Asal-Usul
Menurut tutur yang berkembang di
kalangan masyarakat, beliau tidak diketahui kelahiran dan asal muasalnya. Hanya
yang berkembang sampai sekarang, beliau masih mempunyai hubungan keluarga /
keturunan dari Sayyid Zainal Abidin (Sunan Cendana/ Bujuk Cendana) Kwanyar
Bangkalan Madura. Ada yang mengatakan bahwa beliau adalah putra kandung, ada
juga yang mengatakan cucu dari Sayyid Zainal Abidin.
Sementara menurt versi lainnya,
cerita yang berkembang akhir-akhir ini. beliau diperkirakan keturunan
Sayyid sulaiman yang mempunyai keturunan Sayid Ali Akbar
meninggalkan enam putra yang kelak menjadi penerus jejak kakeknya, Mbah Sayid
Sulaiman. Mereka adalah Sayid Imam Ghazali (makamnya di Tawunan Pasuruan),
Sayid Ibrahim (makamnya di Kota Pasuruan), Sayid Badruddin (makamnya di sebelah
Tugu Pahlawan Surabaya), Sayid Iskandar (makamnya di Bungkul Surabaya), Sayid
Ali Ashghar (makamnya di Sidoresmo)., dan Sayid Abdullah (makamnya di Bangkalan Madura). Sayyid Abdulloh
inilah yang ditengarai sebagai Kiai Abduloh bujuk kolla, Allohu A’lam.
Menurut penulis, versi masih
kontroversial, karena tidak didukung oleh catatan maupun bukti-bukti yang lain,
oleh karena itu perlu penelitian lebih lanjut agar tidak menjadi kontroversi
nasab dan kesejarahan. Namun yang jelas, bahwa Kiai Abdulloh bujuk kola adalah
seorang penyebar agama islam sekaligus leluhur masyarakat Probungan yang
menurunkan banyak ulama-ulama di daerah Klampis dan sekitarnya.
Singkatnya, menurut tutur
masyarakat, tradisi yang berlaku di kalangan penyebar agama Islam adalah
melakukan perjalanan penyebaran dakwah dari satu tempat ke tempat lain. Terkait
dengan ini pula maka Kiai Abdulloh “Bujuk Kolla”, pada awalnya mengadakan
dakwah di daerah “lentok” sebuah desa antara Banyior, Kelbung dan Binoloh
kecamatan Sepulu Bangkalan.
C. Dakwah dan petapaannya
Pada saat menyebarkan agama
Islam, beliau melakukan sambil berhalwat (bertapa) di tempat kesunyian,
mendekatkan diri kepada ALLOH SWT. Sebagaimana dakwa yang dilakukan oleh banyak
penyiar agama Islam, beliau mendapatkan tantangan dari masyarakat sekitar,
bahkan pada saat beliau berhalwat (bertapa) di suatu tempat di daerah kecamatan
Sepulu, beliau mendapat gangguan luar biasa. Bahkan pada saat beliau bertapa,
beliau dilempari, diganggu dan dianggap sebagai orang gila, sehingga beliau
pergi meninggalkan masyarakat di daerah itu. hari demi hari dilaluinya dengan
sengsara dan penuh penderitaan, namun beliau menerima semua itu dengn tabah dan
sabar berjalan ke arah barat sampai akhirnya tiba di suatu tempat,
tepatnya di dusun Probungan Tenggun Klampis. Di tempat inilah beliau merasakan
ketenangan dalam hatinya serta memasrahkan diri kepada Allah
SWT, dengen cara bertirakat, bertapa di bawah pohon polay.
D. Pembabat Probungan
Konon, Kiai Abdulloh Bujuk Kolla
bertapa di sebuah sumber yang sekarang berubah menjadi kolam (Bahasa Madura:
KOLLA), tepatnya di dusun probungan. Bujuk Kolla bertapa selama 3 (tiga)
tahun, selama dalam pertapaannya beliau ditemani kerbau putih,
sampai akhirnya tempat pertapaannya membekas menjadi batu berbentuk bokong
(Bahasa Madura: Tongkeng). Sampai sekarang tempat pertapaan Kiai Abdulloh Bujuk
Kolla itu dirawat dan dilestarikan oleh anak keturunanya.
Selama bertapa itu beliau
bermunajat kepada ALLOH SWT agar, barokah ilmunya,barokah keturunannya, dan
barokah tempatnya. Sehingga beliau dikenal dengan sebutan BUJUK KOLLA. Selain
itu, konon, Kiai Abdulloh Bujuk Kolla harus berjuang habis-habisan untuk
membabat Probungan. Tidak sekadar bekerja keras menebang pohon-pohon besar yang
masih berwujud rimba, tapi juga harus bertarung melawan bangsa Jin, sebab
probungan saat itu masih sangat angker dan menyeramkan, menjadi sarang makhluk
halus dan markas para dedemit (jin). Setelah selesai melakukan tapa bratanya, beliau
mendirikan rumah sekaligus tempat beribadah di daerah itu, kemudian melakukan
dakwah sampai akhir hayatnya.
Tidak diketahui kapan beliau
wafat, dan di mana beliau dimakamkan. Menurut sebagian besar cerita yang
berkembang, beliau dimakamkan di pemakaman Tengginah Bator Klampis, namun tidak
diketahui nisannya. Ada yang memperkirakan, makam beliau terdapat di bagian
utara areal pemakana, namun ada juga yang mengatakan dimakamkan di bagian
tenggara areal makam, tapi yang jelas beliau mempunyai putra bernama Kiai Qosim
yang dikenal dengan sebutan BUJUK LANGGAR. Dari beliaulah kemudian menurunkan
banyak tokoh-tokoh penyiar agama Islam, khusunya di desa-desa daerah tenggara
kecamatan Klampis.
E. Turunan Pewaris perjuangannya
Hasil jerih payah Kiai Abdulloh
Bujuk Kolla dalam segala usahanya membawa berkah amat besar bagi kehidupan
beragama kaum Muslimin sampai sekarang, khususnya di daerah probunga, tenggara
kecamatan klampis dan desa-desa lain di daerah kecamatan Sepulu dan Geger
bagian utara. Perjuangannya berdakwah dan mendirikan pesantren, melawan dan
bergelut dengan tantangan, telah menorehkan napak tilas terciptanya
apa yang kini kerap disebut dengan kentalnya moralitas agamis dan budaya
pesantren. Beliau berjasa mendirikan Pondok Pesantren di probungan , Tenggun,
Klampis Bangkalan, juga menurunkan pewaris-pewaris perjuangannya.
Para pewaris perjuangannya
termasuk para ulama pemangku pesantren-pesantren di Probungan yang kemudian
menyebar ke desa-desa yang lain. Menurut riwayat yang masyhur di kalangan
keluarga Probungan berdasarkan catatan silsilah, seorang keturunan beliau
bernama Kiai Qosim yang berjuluk BUJUK LANGGAR. Adapun asal-muasal beliau
dijuluki Bujuk Langgar adalah sebagai berikut;
Konon suatu saat Kiai Abdulloh
Bujuk Kolla membuat musolla (Langgar) sebagai tempat ibadah . Pada saat membuat
musolla tersebut beliau dibantu oleh putranya yang masih kecil bernama Qosim.
Pengerjaan musolla itu dilakukan dengan menggunakan alat-alat yang sederhana,
hingga suatu saat beliau Bujuk Kolla memerintah putranya (Qosim) untuk membuat
tiang Musolla. Namanya saja masih kecil, kiai Qosim memotong tiang Musolla
terlalu pendek, sehingga kiai Abdulloh bujuk kola marah kepada beliau.
Akibatnya, kiai kosim ketakutan dan mengurut-urut tiang yang terlanjur dipotong
pendek tidak sesuai dengan keinginan abahnya. Ajaib, setelah diurut-urut,
akhirnya tiang itu menjadi panjang dan cukup untuk menjadi tiang sebagaimana
keinginan abahnya. Sampai sekarang, bekas tiang yang diurut oleh kiai qosim
masih bisa disaksikan di musolla (Langgar konah) probungan.
Menurut tutur sesepuh Probungan,
sebab musabab Kiai Qosim mendapat julukan Bujuk langgar karena dua kemungkinan.
Kemungkinan pertama, karena beliau yang menurut-tiang langgar sebagaimana
cerita di atas. Sementara menurut versi lain, kiai Qosim dikenal sebagai abid
(ahli ibadah) yang senang berkhidmah selalu melakukan munajat di musolla
(Langgar), sehingga beliau menyiapkan potongan bambu (Bahasa Madura: bung-bung)
sebagai tempat meludah. Konon pula, ludah beliau tidak boleh diinjak orang
karena akan berakibat sakit misterius bagi yang menginjaknya.
Sama seperti abahnya, kiai Qosim
sangat berjasa melakukan dakwah Islam sampai akhir hayatnya. Demikian pula,
tidak diketahui kapan beliau wafat, dan di mana beliau dimakamkan. Menurut
sebagian besar cerita yang berkembang, beliau dimakamkan di pemakaman Tengginah
Bator Klampis, namun tidak diketahui nisannya.
Kiai Qosim meninggalkan seorang
putra yang bernama Kiai Syafi’I sebagai peneruh perjuangannya. Tidak diketahui
banyak tentang beliau, yang jelas sama dengan abah dan kakeknya, beliau
merupakan seorang pendakwah yang sangat gigih menyiarkan agama Islam melalui
pendidikan pesantren maupun dakwah kepada masyarakat sekitar. Diantara
keturunan Kiai Syafi’I yang paling terkenal adalah Kiai Muhammad Rosul yang
dikenal dengan sebutan Juk Balai, karena beliau menempati bagiai Balai.
Sementara saudaranya bernama Kiai Zainal Adzim yang dikenal dengan Bujuk Roma,
karena menempati bagian rumah. Sedangkan putra-putri Kiai Syafii yang lain juga
mendirikan pesantren di daerah probungan dan sekitarnya
Diantara putra-putri kiai Syafii
yang paling terkenal adalah Kiai Muhammad Rosul dan Kiai Zainal adzim, keduanya
adalah pengasuh pesantren yang ditinggalkan kakek buyutnya. Keduanya pula
sangat gigih dan berjasa mengembangkan strategi pendidikan dan model dakwah
sebagaimana banyak dilakukan oleh para wali di zaman dahulu.
Adapun KH. Muhammad Rosul
memiliki putri nyai Khofifah yang dipersunting oleh Kiai Muhammad Ro’is dan
memiliki beberapa keturunan, diantaranya bernama KH. Mustofa Ro’is, beliau
adalah pengasuh Pondok Pesantren Bi’rul Ulum Probungan, Pondok pesantren
peninggalan leluhur yang diretas oleh Kiai Abdulloh Bujuk Kolla
Sementara itu KH. Zainal Adzim
(bujuk roma) bin Kiai Syafi’i, dalam menjalankan dakwah dan pendidikan,
dikenal sebagai ulama yang sangat populis. Dikatakan demikian,
karena dalam dakwahnya beliau menggunakan berbagai metode yang dapat diterima
dengan baik oleh masyarakat. Adpun model yang dilakukan beliau adalah ditempuh
dengan pendekatan agama (religion prevention). , pendekatan budaya/kultural,
pendekatan moral/edukatif karena beliau sadar bahwa ketidaksadaran
masyarakat saat itu terkait erat dengan budaya dan keawaman (pendidikan)
penganutnya. Beliau sangat menyadari apa yang dinyatakan dalam
Al-Qur’an; Ajaklah mereka ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan nasihat
yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik, sesungguhnya Rabbmu
Dia-lah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya, dan
Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”
(QS- An-Nahl 125)
Ayat di atas menandaskan tentang
keharusan pengedepanan argumentasi logis dan bertanggung jawab, dialog, dan
sejenisnya dalam mendakwahkan ajaran agama penuh hikmah dan nasihat yang baik.
Artinya, agama tidak bisa
dikembangkan di atas kekerasan, sebab, agama adalah persoalan keberimanan,
keyakinan yang sangat bergantung kepada ketulusan, ketajaman nurani, dan
sejenisnya, dan bukan kepada kekerasan yang penuh keangkuhan. Demikian pula,
kekerasan bertolak belakang seutuhnya dengan misi agama yang dihadirkan untuk
kebahagiaan umat manusia.
Selain pendekatan edukatif
tradisional, dakwah melalui pendekatan kutural yang dilakukan oleh KH. Zainal
Adzim (Bujuk Roma) direpresentasikan dalam bentuk kesenian, sehingga dakwah
beliau sangat diterima oleh kalangan masyarakat.
Menurut tutur para sesepuh
masyarakat, santri KH. Zainal Adzim bukan hanya manusia, tetapi santrinya ada
yang berasal dari golongan jin. Hal ini terjadi (menurut tutur para sesepuh),
selain beliau dikanal sangat alim, beliau juga dikenal sangat sakti. Dalam
kesehariannya, beliau terihat sering mulang (ngajar) sendirian, padahal yang
mengikuti pangajiannya adalah kalangan Jin.
Adapun anak cucu dan keturunan
keturunan KH. Zainal Adzim adalah seorang putri bernama Nyai Hj. Siti Mardiyah
yang dipersunting oleh KH Zayyadi Tengginah, dari pasangan Nyai Hj. Siti
Mardiyah dan KH Zayyadi lahir seorang putri bernama Nyai Siti Asizah memiliki
putri bernama Nyai Hj Siti Muzayyahah menikah dengan RH. Abdullah, MA, memiliki
beberapa putra dan putrid, diantaranya Saiful Abdullah, SH, MH yang saat ini
meneruskan pesantren Nurul Ulum bator Klampis yang ditinggalkan oleh
ayahandanya. Semoga ruh dan semangat perjuangan yang telah diretas oleh Kiai
Abdulloh Bujuk Kolla senantiasa mendapat ridlo dari ALLOH SWT.
